MANADO, 14 SEPTEMBER 2026 — Polemik antarorganisasi masyarakat sipil kembali memanas. LSM Garda Timur Indonesia (GTI) menantang LSM Rako untuk menghentikan perang narasi dan membuktikan setiap pernyataan dengan data, dokumen serta fakta di hadapan publik.
Ketua Umum DPP GTI, Fikri Alkatiri, menilai kritik terhadap sesama LSM tidak seharusnya digunakan untuk membangun citra atau mencari pengakuan dari pejabat pemerintah.
Kalau memang merasa paling independen dan paling benar, jangan hanya bermain narasi. Mari buka data dan fakta. Publik yang menilai,” tegas Fikri.
GTI bahkan menyatakan siap debat terbuka dengan LSM Rako. Forum tersebut, menurut Fikri, penting untuk menguji dasar argumentasi masing-masing pihak sekaligus menghindari tudingan yang berkembang tanpa pembuktian.
Kami siap debat terbuka. Bawa data, dokumen dan fakta. Kami juga akan buka data yang kami miliki. Jangan sampai LSM menjatuhkan LSM lain hanya untuk mendapatkan pujian atau dianggap paling dekat dengan pemerintah,” ujarnya.
Fikri menegaskan, independensi LSM tidak diukur dari seberapa keras memuji pemerintah atau seberapa tajam menyerang pihak lain, tetapi dari keberanian menyampaikan fakta secara konsisten dan bertanggung jawab.
GTI juga mengingatkan bahwa fungsi social control harus berpihak kepada kepentingan masyarakat. Pemerintah patut diapresiasi ketika bekerja benar, namun wajib dikritisi jika ditemukan persoalan yang perlu dipertanyakan.
Kini GTI melempar tantangan terbuka: bukan perang opini, melainkan adu data. Jika LSM Rako memiliki bukti dan argumentasi yang kuat, GTI mempersilakan semuanya dibuka dalam forum terbuka agar masyarakat dapat menilai secara objektif.
Tidak perlu saling menjatuhkan. Kita buka semuanya. Data lawan data, fakta lawan fakta. Dari situ publik akan tahu siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat,” tutup Fikri.












