Bojonegoro, – Proyek pembangunan jalan rigid beton di Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, yang didanai dari Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD), menjadi sorotan tajam setelah tayang di plafon media TikTok.
Tim investigasi media dan Forum Purnawirawan Pejuang Indonesia ( FPPI) menemukan sejumlah kejanggalan saat turun ke lapangan. Minggu, 11/1/2026.
Proyek tersebut diduga dikerjakan secara “amburadul” dan tidak sesuai dengan spesifikasi dan teknik yang telah ditetapkan.
Saat dikonfirmasi terkait temuan tersebut, Kepala Desa Kepoh justru memilih melempar tanggung jawab.
Melalui pesan WhatsApp pribadinya, ia hanya menjawab singkat, “Tulung koordinasi sama Timlak dan mas Djirohman mas…”. Jawab kades pohbaru.
Ketua Forum Punawirawan Pejuang Indonesia ( FPPI ) Bojonegoro, Arif Marsudi, menyampaikan bahwa tim investigasi menemukan indikasi kuat pengerjaan proyek yang tidak mengacu pada spesifikasi teknis yang seharusnya. Arif Marsudi kepada awak media ini menyampaikan bahwa, ditemukan sejumlah fakta yang sangat memprihatinkan di antaranya,
1. Lubang Struse Dangkal “Cetek” Kedalaman galian untuk lubang struse tidak memenuhi standar teknis yang seharusnya. Tim investigasi menemukan bahwa kedalaman galian hanya mencapai 50 sentimeter hingga 40 sentimeter, padahal seharusnya pada umumnya kedalaman struse 120 setimeter hingga 150 setimeter Kedalaman yang Seharusnya. Hal ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kekuatan dan daya tahan jalan dalam jangka panjang.
2. Besi srouse dan besi lantai jala “Cilik”, material besi yang digunakan dalam proyek ini juga menjadi sorotan. Tim investigasi menduga bahwa besi yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi yang semestinya. Ukuran diameter besi terlihat lebih kecil dari yang seharusnya, sehingga dikhawatirkan akan mengurangi kekuatan konstruksi.
“Besi untuk lantai yang seharusnya diameter 8 mm dengan toleransi 7,7 mm sesuai Spesifikasi, namun di Lapangan di temukan hanya diameter 7,2 mm saat di cek mengunakan alat sketmat,” ungkap Arif Marsudi ketua FPPI Bojonegoro.
Ia juga menambah bahwa besi stroos yang di gunakan juga terlihat ada kejagalan,” Besi Strosenya seharusnya yang digunakan besi diameter 10 mm dengan toleransi 9,7 mm saat di kroscek hanya terlihat 9,2 mm ini jelas menyalai perencanaan dan diduga ada indikasi penyelewengan harga bembelian barang dan jasa yang sudah di tentukan.
Dengan kondisi proyek yang “amburadul” ini, tim investigasi menduga bahwa dana BKKD yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan infrastruktur desa telah diselewengkan. FPPI Bojonegoro menuntut agar pemerintah daerah dan pihak terkait bertanggung jawab atas kualitas proyek yang buruk ini.
Upaya konfirmasi kepada Camat Kepohbaru, terkait temuan ini tidak membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, Camat pohbaru belum memberikan respon apapun. Sikap bungkam Camat Kepohbaru ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat.
“Tim investigasi menduga ada praktik korupsi dalam proyek ini. Dana BKKD seharusnya digunakan untuk membangun jalan yang berkualitas, bukan proyek jalan yang asal jadi seperti ini” tegas Arif Marsudi
Lebih lanjut Arif Marsudi ketua FPPI Bojonegoro akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Forum Punawirawan Pejuang Indonesia (FPPI) mendesak agar proyek ini diaudit secara independen dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyimpangan dana BKKD ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku Transparansi dan Akuntabilitas Harus Ditegakkan.
“Kami akan terus menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan dalam setiap proyek pembangunan yang menggunakan uang rakyat,” pungkas Arif Marsudi.
Program Bantuan Keuangan Kusus Desa ( BKKD) dari pemerintah kabupaten Bojonegoro salah satunya Proyek jalan rigid beton ini seharusnya menjadi simbolis kemajuan bagi Desa Kepoh. Namun, jika dikerjakan secara “amburadul” dan terindikasi adanya korupsi, proyek ini justru akan menjadi aib dan merusak citra pemerintah daerah. ( Tim / red)












