BOJONEGORO – Suasana di Kantor Desa Besah, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro, mendadak memanas pada Senin (16/06/2025), sekitar pukul 11.00 WIB, ketika dua orang tamu yang mengaku wartawan dari sebuah media online berkunjung untuk bersilaturahmi.
Kunjungan yang semula berlangsung dalam suasana santai berubah menjadi perdebatan tajam antara Kepala Desa Besah, Abdul Rohim, dan salah satu tamu, yang mempertanyakan peran kontrol sosial di tengah masyarakat.
Sumber dari Ngadirin, salah satu wartawan yang turut hadir bersama rekannya bernama Marfu’ah, menuturkan bahwa ia sempat dipersilakan duduk dan diterima dengan baik oleh Kades. Namun, suasana mulai berubah ketika Abdul Rohim menyampaikan pernyataan bernada sinis terhadap profesi wartawan dan LSM.
“Sekarang desa tidak ada apa-apa, karena kades tidak bisa ambil uang. Jadi yang namanya LSM dan wartawan harus siap-siap ganti profesi, karena kades-kades sudah sepakat tidak akan memberikan bensin atau lainnya,” ujar Abdul Rohim sebagaimana ditirukan Ngadirin.
Pernyataan itu memicu respons dari Ngadirin, pihak wartawan yang merasa perannya sebagai pengawas sosial justru krusial dalam menjaga transparansi pemerintahan desa. Ketika Ngadirin menanggapi bahwa masyarakat, LSM, dan media memiliki peran dalam pengawasan, suasana kian memanas.
Menurut penuturan Ngadirin, Kepala Desa Abdul Rohim kemudian menyatakan bahwa pengawasan cukup dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia mempertanyakan kapasitas media sebagai pihak yang tidak layak mengawasi pemerintahan desa.
“Kamu siapa? Kan ada KPK,” ujar Abdul Rohim seperti dikutip Ngadirin.
Ketegangan memuncak ketika Kepala Desa diduga mengusir kedua tamunya sambil melontarkan pernyataan bernada ancaman. Bahkan, menurut pengakuan Ngadirin, Abdul Rohim sempat mengajak “gelut” di luar desa, sembari menyebut watak masing-masing pihak.
“Kamu tahu kan watakku. Aku juga tahu watakmu. Kamu ngajak jotosan apa?,” ucapnya sebagaimana ditirukan Ngadirin, sebelum akhirnya Marfu’ah menarik Ngadirin untuk keluar dari ruangan guna menghindari konfrontasi lebih lanjut.
Menanggapi kejadian tersebut, Ngadirin menyebut bahwa karakter Kepala Desa Besah dikenal keras, “Ia terbiasa bicara tanpa dibantah, memposisikan orang seperti wayang yang harus manut dan tidak boleh menyanggah,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media telah berupaya meminta klarifikasi langsung kepada Kepala Desa Besah, Abdul Rohim, melalui pesan singkat yang dikirimkan ke nomor pribadinya, namun tidak mendapatkan respons hingga berita ini ditayangkan, Rabu (18/6/2025).
Peristiwa ini menyoroti pentingnya etika komunikasi pejabat publik dalam menerima aspirasi dan kritik dari masyarakat sipil. Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas, peran LSM dan media tetap relevan sebagai penjaga moral dan pengawas jalannya roda pemerintahan.
Berita Terkait
Ratusan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Bojonegoro mengikuti pembinaan untuk meningkatkan daya saing produk hingga menembus pasar nasional dan internasional. Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro tersebut digelar di Hotel Eastern, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Sri Wahyuni, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, pengurus Dekranasda, serta tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono menjelaskan, Dekranasda telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan IKM selama lima tahun. Pada 2025, fokus pada pembangunan fondasi melalui identifikasi produk kerajinan unggulan, pembentukan ikon produk, penguatan branding, hingga pengembangan sentra industri. Memasuki 2026, fokus pada kualitas produk dan SDM. Cantika menuturkan, target ekspor produk unggulan Bojonegoro diproyeksikan pada 2028. Meski demikian, berbagai tahapan persiapan telah dimulai sejak tahun ini, mulai dari peningkatan kualitas produk, desain, kemasan, digital marketing, hingga perluasan akses pasar melalui berbagai pameran tingkat regional, nasional, maupun internasional. “Persaingan saat ini bukan lagi antardaerah, tetapi sudah bersaing dengan produk dari berbagai negara. Karena itu kualitas, detail produk, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar harus terus ditingkatkan agar produk Bojonegoro siap bersaing di pasar global,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan, Dekranasda telah melaksanakan berbagai program pendampingan bagi IKM, seperti pelatihan pemasaran digital melalui siaran langsung TikTok, keikutsertaan pada pameran Inacraft, peningkatan desain dan branding produk, hingga membuka akses pasar nasional dan internasional. Pada kesempatan tersebut, Dekranasda juga menjalin kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Menurut Cantika, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat merupakan implementasi konsep hexahelix yang diharapkan mampu mempercepat pengembangan IKM di Kabupaten Bojonegoro. “Melalui kolaborasi ini kami berharap para dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat menjadi mitra strategis bagi IKM, sehingga berbagai kendala usaha dapat dicarikan solusi melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya. Cantika juga berpesan kepada seluruh pelaku IKM agar terus belajar, berinovasi, memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta memperluas jejaring dan kolaborasi. Menurutnya, keempat hal tersebut menjadi kunci agar IKM mampu berkembang dan naik kelas. Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UMM Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang dengan Dekranasda Kabupaten Bojonegoro. Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas IKM secara berkelanjutan. “Ketika usaha sudah naik kelas dan siap ekspor, maka pelaku IKM juga harus siap dengan tata kelola dan standar yang mengikuti kebutuhan pasar global. Karena itu pendampingan akan terus kami lakukan secara bertahap,” ujarnya. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pembinaan yang dipandu tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang. Para peserta memperoleh materi mengenai penguatan kapasitas IKM, pengelolaan usaha, peningkatan daya saing produk, hingga strategi menembus pasar ekspor.