Pasuruan – Guna memperkokoh ketahanan pangan dan gizi warga, Yayasan Generasi Putra Bangsa Nasional bareng relawan pengawasan Pro Garda Indonesia Bersatu (PROGIB) meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gajah Rejo 02.
Giat tersebut dihadiri oleh pihak pihak berperan penting termasuk Ketua dan anggota Progib Jawa Timur, jajaran Forkopimda Kabupaten Pasuruan, Forkopimca Kecamatan Purwodadi, Kapolsek Purwodadi Iptu Sugiardi, Camat Purwodadi Sugiarto, Danramil Purwodadi Ahmad Suroso, serta Kepala Desa Gajah Rejo, Kasiyono, beserta seluruh perangkat desa setempat.
Dalam sambutannya, Kartika, Kepala SPPG Gajah Rejo 02, menyampaikan optimisme atas kehadiran fasilitas ini.
“Dengan adanya SPPG ini, kami berharap dapat mendistribusikan Makanan Bergizi (MBG) secara lebih merata. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kelompok rentan seperti siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga oleh para relawan dan pemasok bahan baku lokal. Semoga SPPG ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi warga sekitar,” ujarnya.
Perwakilan Dewan Pembina Progib Jatim, Apen , menegaskan pentingnya program MBG sebagai solusi konkret.
“MBG adalah energi pengubah kondisi. Ketika orang tua mengalami kesulitan memenuhi gizi anak, maka MBG hadir sebagai jawabannya. Seporsi makanan bergizi bisa menjadi harapan dan pondasi bagi masa depan bangsa,” tegas Apen.
Sementara itu, Ketua DPW Progib Jawa Timur, Soemardi Priono Maryono, menjelaskan bahwa SPPG merupakan bagian dari fasilitasi program pemerintah.
“Ini adalah upaya menghadirkan negara dalam lingkup terkecil, yaitu keluarga, melalui program makan bergizi. Pasca-kampanye, peran relawan bertransformasi menjadi pengawas untuk memastikan program ini berjalan terstruktur, sistematis, dan tepat sasaran,” jelas Soemardi.
“Pengawasan berkala akan dilakukan, termasuk pemantauan kesehatan karyawan SPPG oleh Dinas Kesehatan, untuk menjamin keberlangsungan dan akuntabilitas layanan,” imbuhnya.
Acara peresmian itu digelar di wilayah Dusun Bakalan, RT 09/RW 03, Desa Gajah Rejo, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu pagi (10/12/2025).
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan diakhiri dengan pemotongan pita secara simbolis oleh Camat Purwodadi, menandai beroperasinya layanan gizi baru ini.
Tak hanya itu, Sejumlah Ketua DPC Progib di Jawa Timur juga turut hadir, diantaranya adalah Kasiran, Ketua DPC Progib Bojonegoro, beserta para jajaran dan sejumlah satgas. Kasiran menyampaikan dukungan penuh atas program dari Bapak Presiden.
“Kami mewakili DPC Progib Bojonegoro mengucapkan selamat atas mulai beroperasinya layanan gizi di SPPG Gajah Rejo 02. Kami selalu mendukung semua program dari Bapak Presiden kita,” ungkapnya.
Berita Terkait
Ratusan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Bojonegoro mengikuti pembinaan untuk meningkatkan daya saing produk hingga menembus pasar nasional dan internasional. Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro tersebut digelar di Hotel Eastern, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Sri Wahyuni, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, pengurus Dekranasda, serta tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono menjelaskan, Dekranasda telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan IKM selama lima tahun. Pada 2025, fokus pada pembangunan fondasi melalui identifikasi produk kerajinan unggulan, pembentukan ikon produk, penguatan branding, hingga pengembangan sentra industri. Memasuki 2026, fokus pada kualitas produk dan SDM. Cantika menuturkan, target ekspor produk unggulan Bojonegoro diproyeksikan pada 2028. Meski demikian, berbagai tahapan persiapan telah dimulai sejak tahun ini, mulai dari peningkatan kualitas produk, desain, kemasan, digital marketing, hingga perluasan akses pasar melalui berbagai pameran tingkat regional, nasional, maupun internasional. “Persaingan saat ini bukan lagi antardaerah, tetapi sudah bersaing dengan produk dari berbagai negara. Karena itu kualitas, detail produk, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar harus terus ditingkatkan agar produk Bojonegoro siap bersaing di pasar global,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan, Dekranasda telah melaksanakan berbagai program pendampingan bagi IKM, seperti pelatihan pemasaran digital melalui siaran langsung TikTok, keikutsertaan pada pameran Inacraft, peningkatan desain dan branding produk, hingga membuka akses pasar nasional dan internasional. Pada kesempatan tersebut, Dekranasda juga menjalin kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Menurut Cantika, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat merupakan implementasi konsep hexahelix yang diharapkan mampu mempercepat pengembangan IKM di Kabupaten Bojonegoro. “Melalui kolaborasi ini kami berharap para dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat menjadi mitra strategis bagi IKM, sehingga berbagai kendala usaha dapat dicarikan solusi melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya. Cantika juga berpesan kepada seluruh pelaku IKM agar terus belajar, berinovasi, memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta memperluas jejaring dan kolaborasi. Menurutnya, keempat hal tersebut menjadi kunci agar IKM mampu berkembang dan naik kelas. Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UMM Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang dengan Dekranasda Kabupaten Bojonegoro. Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas IKM secara berkelanjutan. “Ketika usaha sudah naik kelas dan siap ekspor, maka pelaku IKM juga harus siap dengan tata kelola dan standar yang mengikuti kebutuhan pasar global. Karena itu pendampingan akan terus kami lakukan secara bertahap,” ujarnya. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pembinaan yang dipandu tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang. Para peserta memperoleh materi mengenai penguatan kapasitas IKM, pengelolaan usaha, peningkatan daya saing produk, hingga strategi menembus pasar ekspor.