Bojonegoro ]MMCNEWS.ID , – Dihadapan menteri PDTT RI Dr (HC) Drs Abdul Halim Iskandar P.Ph dan juga Forkopimda beserta undangan H Mat Asim selaku Kepala Desa Sumuragung , memamaprkan berbagai rancangan terkait WTG yang berada di Sumuragung, Baureno Kabupaten Bojonegoro Jawa-Timur.Sabtu (05/06/2021).
Dalam sambutanya Kepala Desa memaparkan , bahwa sesuai data umum Desa Sumberagung Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro dengan luas wilayah 270 ha Jumlah penduduk 3385 (tiga ribu tiga ratus delapan puluh lima) jiwa yang mayoritas 51% masyarakat kami bekerja di sektor pertanian.
Disebutkan , dengan pertumbuhan jumlah penduduk mencapai 3385 (Tiga ribu tiga ratus delapan puluh lima) yang terdiri dari 845 KK , dan terdiri dari 2 dusun diantaranya, dusun Simo sama dusun Sumuragung , dengan ujung tombak pemerintahan terdiri dari 4 RW dan 17 RT , Desa Sumberagung Perkembangan indeks Desa membangun atau IGM dengan rincian indeks ketahanan sosial sebesar 0,766 indeks ketahanan ekonomi sebesar 0,58 tahanan lingkungan sebesar 0,8.
Sedangkan, lanjut Asim Desa Sumuragung untuk alokasi Dana Desa sebesar 780 juta di tahun 2021 dan dana add sebesar 489 juta di tahun 2021.
Adapun , tambahnya , potensi wisata Kebun Bibit di desa kami destinasi wisata tebing yang terletak di kawasan Gunung ini memiliki luas 1,3 ha cocok dikembangkan untuk wisata outbound panjat tebing seperti foto sport, selain itu fliying fox maupun maupun wisata edukasi dan lain-lainnya.
Sebelumnya kami sambung kades, melalui pemdes 1000 pohon buah sudah kami tanam di tahun 2019. sarana yang dibutuhkan dalam pengembangan pengembangan wisata tebing membutuhkan sarana pendukung antara lain fliying fox, akses Jalan Setapak permainan anak pagar pengaman Pujasera serta kolam renang.
“Bahwa rencana kami ke depan ingin menciptakan lokasi wisata ini dengan membangun danau yang di bawah , sedangkan yang di atasnya ada pulau.”ungkapnya.
H Mat Asim juga menyampaikan harapan sekilas tentang badan usaha milik desa (BUMDES) Desa Sumberagung dengan memperdayakan pertanian peternakan dan UMKM serta pariwisata.
Itupun sesuai harapan kami semua yang mempunyai visi misi diantaranya:
1- mengembangkan usaha ekonomi melalui usaha sektor
2- membangun infrastruktur dasar yang mendukung perekonomian dan pertanian
3-mengembangkan jaringan kerjasama ekonomi dengan berbagai pihak
4-mengelola dana program yang masuk ke desa yang bersifat dana bergulir dan dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi pedesaan.
“Dengan apa yang kami paparkan semoga bisa menjadikan motivasi semangat bagi kami semua, khususnya pemdes maupun warga masyarakat Sumuragung.”tutup Mat asim.(Red/Dik)
Editor : Didik Sap
Berita Terkait
Ratusan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Bojonegoro mengikuti pembinaan untuk meningkatkan daya saing produk hingga menembus pasar nasional dan internasional. Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro tersebut digelar di Hotel Eastern, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Sri Wahyuni, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, pengurus Dekranasda, serta tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono menjelaskan, Dekranasda telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan IKM selama lima tahun. Pada 2025, fokus pada pembangunan fondasi melalui identifikasi produk kerajinan unggulan, pembentukan ikon produk, penguatan branding, hingga pengembangan sentra industri. Memasuki 2026, fokus pada kualitas produk dan SDM. Cantika menuturkan, target ekspor produk unggulan Bojonegoro diproyeksikan pada 2028. Meski demikian, berbagai tahapan persiapan telah dimulai sejak tahun ini, mulai dari peningkatan kualitas produk, desain, kemasan, digital marketing, hingga perluasan akses pasar melalui berbagai pameran tingkat regional, nasional, maupun internasional. “Persaingan saat ini bukan lagi antardaerah, tetapi sudah bersaing dengan produk dari berbagai negara. Karena itu kualitas, detail produk, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar harus terus ditingkatkan agar produk Bojonegoro siap bersaing di pasar global,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan, Dekranasda telah melaksanakan berbagai program pendampingan bagi IKM, seperti pelatihan pemasaran digital melalui siaran langsung TikTok, keikutsertaan pada pameran Inacraft, peningkatan desain dan branding produk, hingga membuka akses pasar nasional dan internasional. Pada kesempatan tersebut, Dekranasda juga menjalin kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Menurut Cantika, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat merupakan implementasi konsep hexahelix yang diharapkan mampu mempercepat pengembangan IKM di Kabupaten Bojonegoro. “Melalui kolaborasi ini kami berharap para dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat menjadi mitra strategis bagi IKM, sehingga berbagai kendala usaha dapat dicarikan solusi melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya. Cantika juga berpesan kepada seluruh pelaku IKM agar terus belajar, berinovasi, memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta memperluas jejaring dan kolaborasi. Menurutnya, keempat hal tersebut menjadi kunci agar IKM mampu berkembang dan naik kelas. Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UMM Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang dengan Dekranasda Kabupaten Bojonegoro. Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas IKM secara berkelanjutan. “Ketika usaha sudah naik kelas dan siap ekspor, maka pelaku IKM juga harus siap dengan tata kelola dan standar yang mengikuti kebutuhan pasar global. Karena itu pendampingan akan terus kami lakukan secara bertahap,” ujarnya. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pembinaan yang dipandu tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang. Para peserta memperoleh materi mengenai penguatan kapasitas IKM, pengelolaan usaha, peningkatan daya saing produk, hingga strategi menembus pasar ekspor.