Bojonegoro]MMCNews.Id,-Tiga DPC ABPEDNAS (Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional) , Kabupaten Bojonegoro,Tuban dan Lamongan Provinsi Jawa Timur melakukan bimbingan teknis (bimtek) bersama.
Bimtek tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas dalam implementasi peraturan perundang-undangan bagi Badan Permusyawaratan Desa (BPD), yang dilaksanakan di Hotel & Resto Griya MCM Bojonegoro,Minggu (11/04/2021).
Kegiatan tersebut di buka langsung Ketua DPC ABPEDNAS Kabupaten Bojonegoro Mahfud Muharam,dan dilanjutkan dengan sambutan secara bergantian yang disampaikan oleh Ketua DPC lainya.
Dalam sambutannya Mahfud menyampaikan tentang perlunya peningkatan kapasitas BPD,”Bimtek secara berkala kita laksanakan, bertujuan agar BPD paham akan tugas pokok dan fungsinya, BPD harus pinter, jangan kalah sama Pemdes dan Kepala Desa,”ungkap Mahfud.
Ketua DPC Abpednas Tuban Sugeng Ariyanto menegaskan, BPD memiliki 3 fungsi secara umum, yaitu; “bersama kepala desa menyusun dan menyepakati rancangan Perdes, menerima dan menyampaikan aspirasi masyarakat dan mengawasi terhadap kinerja kepala desa Sedangkan untuk tugas, kewenangan, kewajiban BPD merupakan penjelasan dari penjabaran 3 fungsi BPD.
Selain itu, BPD memiliki peran strategis bagi jalannya pemerintahan desa. Sehingga, dapat meningkatkan kapasitas dan fungsi BPD sebagai pengawasan penyelenggaraan pemerintahan pada tingkat desa,” jelasnya.
Ditambahkannya, bahwa BPD adalah mitra pemerintah desa yang harus bisa bersinergi dengan Kepala Desa dan aparatur desa. Dan dapat bersinergi dibutuhkan peningkatan kapasitas sebagai lembaga masyarakat yang ada di desa.
Senada bendahara umum mewakili Ketua DPC Abpednas Lamongan , Gus Masjid,memandang perlunya penguasaan tentang regulasi yang ada,
“Dengam adanya UU No. 6 Th 2014 tentang desa serta adanya ABPEDNAS, harapan saya semua BPD harus bisa menguasi regulasi dan aturan yg ada, termasuk sesuai permendagri no 110 tahun 2016.”
“Perlunya Perda dan Perbub yang mengatur tunjangan BPD dan biaya operasional, BPD harus tetap solid, kompak dan bersama dalam mengawal kebijakan di desa, termasuk mengawal pembangunan yang ada di desa,” sambung Gus Masjid.
Sementara itu Rombongan dari DPD ABPEDNAS Provinsi jawa Timur yang datang pada pertengahan acara, diketuai oleh Agus Budi Sampurno (ketua), Dwi Rahayu Ningsih (Sekretaris), Koordinator bidang pemberdayaan perempuan Ulfa dan 2 orang pengurus DPD.
Dalam kesempatan tersebut Agus Budi Sampurno menyampaikan bahwa BPD harus punya integritas yang tinggi,”BPD harus berperan dalam mendorong tatakelola pemerintahan yang lebih baik di desa, harus berperan lebih aktif lagi untuk mendorong peningkatan pemberdayaan dan pembangunan di desa,”menurut Agus.
Selanjutnya Bimtek dilanjutkan dengan pemaparan dari beberapa orang narasumber diantaranya Budiono SH dari Tuban.(Red/EPJ)
Berita Terkait
Ratusan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Bojonegoro mengikuti pembinaan untuk meningkatkan daya saing produk hingga menembus pasar nasional dan internasional. Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro tersebut digelar di Hotel Eastern, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Sri Wahyuni, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, pengurus Dekranasda, serta tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono menjelaskan, Dekranasda telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan IKM selama lima tahun. Pada 2025, fokus pada pembangunan fondasi melalui identifikasi produk kerajinan unggulan, pembentukan ikon produk, penguatan branding, hingga pengembangan sentra industri. Memasuki 2026, fokus pada kualitas produk dan SDM. Cantika menuturkan, target ekspor produk unggulan Bojonegoro diproyeksikan pada 2028. Meski demikian, berbagai tahapan persiapan telah dimulai sejak tahun ini, mulai dari peningkatan kualitas produk, desain, kemasan, digital marketing, hingga perluasan akses pasar melalui berbagai pameran tingkat regional, nasional, maupun internasional. “Persaingan saat ini bukan lagi antardaerah, tetapi sudah bersaing dengan produk dari berbagai negara. Karena itu kualitas, detail produk, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar harus terus ditingkatkan agar produk Bojonegoro siap bersaing di pasar global,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan, Dekranasda telah melaksanakan berbagai program pendampingan bagi IKM, seperti pelatihan pemasaran digital melalui siaran langsung TikTok, keikutsertaan pada pameran Inacraft, peningkatan desain dan branding produk, hingga membuka akses pasar nasional dan internasional. Pada kesempatan tersebut, Dekranasda juga menjalin kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Menurut Cantika, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat merupakan implementasi konsep hexahelix yang diharapkan mampu mempercepat pengembangan IKM di Kabupaten Bojonegoro. “Melalui kolaborasi ini kami berharap para dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat menjadi mitra strategis bagi IKM, sehingga berbagai kendala usaha dapat dicarikan solusi melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya. Cantika juga berpesan kepada seluruh pelaku IKM agar terus belajar, berinovasi, memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta memperluas jejaring dan kolaborasi. Menurutnya, keempat hal tersebut menjadi kunci agar IKM mampu berkembang dan naik kelas. Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UMM Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang dengan Dekranasda Kabupaten Bojonegoro. Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas IKM secara berkelanjutan. “Ketika usaha sudah naik kelas dan siap ekspor, maka pelaku IKM juga harus siap dengan tata kelola dan standar yang mengikuti kebutuhan pasar global. Karena itu pendampingan akan terus kami lakukan secara bertahap,” ujarnya. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pembinaan yang dipandu tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang. Para peserta memperoleh materi mengenai penguatan kapasitas IKM, pengelolaan usaha, peningkatan daya saing produk, hingga strategi menembus pasar ekspor.